KINERJA GURU SLB

Keberhasilan program pendidikan melalui proses belajar mengajar di sekolah sangat dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu; faktor masukan kasar yang berupa siswa, faktor masukan wahana yang berupa kurikulum, tenaga kependidikan, dana, sarana dan prasarana, serta pengelolaan, dan faktor masukan lingkungan. Apabila ketiga faktor itu bermutu, dan proses belajar mengajar di sekolah juga bermutu akan menghasilkan prestasi belajar yang bermutu, dan pada gilirannya diharapkan akan dapat menghasilkan lulusan yang bermutu pula. Siswa dan tenaga kependidikan merupakan faktor dinamis dan dominan, karena kedua faktor tersebut akan menentukan berhasil atau kurang berhasilnya suatu proses belajar mengajar di kelas. Di samping itu manfaat dari faktor-faktor lainnya yang bersifat statis sangat bergantung kepada cara menggunakannya baik oleh siswa maupun oleh tenaga kependidikan yang terlibat dalam proses belajar mengajar.

Berdasarkan data dari Sub Dinas Pendidikan Luar Biasa, diketahui bahwa; jumlah anak luar biasa –usia sekolah (6-18 tahun) di Indonesia mencapai sekitar 1,8 juta dengan lokasi tempat tinggal yang tersebar. Pada tahun 2000/2001 anak luar biasa –usia sekolah yang dapat menikmati pelayanan pendidikan sekolah, baru sekitar 48.494 orang (2,5 %) dari seluruh populasi anak luar biasa di Indonesia. Khusus di Jawa Barat, jumlah siswa yang berada di SLB sebanyak 11.123 orang, 1.992 di sekolah inklusi dan 250 orang di 31 program akselerasi (Karwati, 2006: 10). Sedangkan pada tahun 2004-2005 jumlah siswa yang bersekolah di SLB di Jawa Barat sebanyak 9.787 siswa, ABK yang bersekolah di sekolah umum (inklusi) sebanyak 1.692 siswa dan sekolah program akselerasi sebanyak 300 siswa. Perkembangan siswa yang bersekolah pada lima tahun terakhir ini mencapai 45 % (Karwati, 2006: 47). Hal ini merupakan dampak dari perkembangan SLB yang semula berjumlah 165 sekolah pada tahun 2002 menjadi 261 sekolah pada tahun 2003, dan pada tahun 2007 meningkat menjadi 273 sekolah yang tersebar di seluruh wilayah kabupaten dan kota di Jawa Barat.

Menghadapi perkembangan jumlah peserta didik yang memiliki kebutuhan khusus ini, maka tenaga pendidik, kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan, pengelolaan sekolah, proses belajar mengajar, pengelolaan dana, supervisi dan monitoring, dan hubungan sekolah dengan lingkungan yang akan diperuntukan bagi Sekolah Luar Biasa memerlukan suatu kemampuan dan penanganan khusus yang dapat mewujudkan mutu pembelajaran yang berkualitas, sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Banyak hal yang menjadi bahan pertimbangan, bagaimana kinerja guru akan berdampak kepada pendidikan bermutu. Komponen guru merupakan salah satu faktor yang sangat esensial dalam keberhasilan pendidikan di Sekolah Luar Biasa, oleh sebab itu kinerja guru dituntut untuk lebih baik. Untuk memperoleh pendidikan yang baik, banyak hal yang harus dipersiapkan agar jalannya proses belajar mengajar berjalan secara efektif dan efisien. Salah satunya adalah kualitas kerja guru SLB yang ditampilkan dalam aktivitas prilaku guru dalam kesehari-hariannya di sekolah.

Hoy dan Miskel (2001) menjelaskan bahwa; sekolah merupakan suatu sistem sosial yang memiliki empat elemen atau sub sistem penting, yaitu struktur, individu, budaya, dan politik. Perilaku organisasi merupakan fungsi dari interaksi elemen-elemen ini dalam konteks pengajaran dan pembelajaran. Lingkungan juga merupakan aspek penting dari kehidupan organisasi; lingkungan tidak hanya menyediakan sumber bagi sistem tersebut tetapi juga menyediakan kendala dan peluang lainnya. Robbin (1996: 9) menyatakan bahwa perilaku organisasi adalah “suatu studi yang mempelajari dampak perorangan, kelompok, proses dan struktur pada perilaku dalam organisasi dengan maksud menerapkan pengetahuan semacam itu untuk memperbaiki keefektifan organisasi”. Karena itu, menurut Gibson, et al (1996: 23-29) analisis kehidupan organisasi dapat dilihat melalui tiga faktor utama, yaitu: perilaku (individu, kelompok, organisasi), struktur (desain organisasi), dan proses (komunikasi dan pengambilan keputusan).

Kinerja guru yang rendah menunjukkan mutu pendidikan di sekolah tersebut yang rendah. Ini tentunya dapat menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap SLB. Masyarakat tentunya menginginkan ABK mendapat pelayanan pendidikan yang terbaik dengan guru yang memiliki kinerja yang tinggi. Untuk itu, guru SLB dalam meningkatkan kinerjanya perlu memahami kompetensi dasar yang harus dimiliki ketika bekerja di SLB, sehingga tujuan pendidikan yang diharapkan dapat dicapai sekolah.

A. Kinerja Guru

Secara etimologis, kinerja (Performance) berarti ujuk kerja (Badudu, 1994: 34). Kinerja adalah sesuatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan atau kemampuan kerja (Depdikbud, 1994: 503). Kinerja berasal dari kata performance. Kinerja dapat juga berarti sebagai prestasi kerja, pelaksanaan kerja, pencapaian kerja, hasil kerja, unjuk kerja ataupun penampilan kerja. Menurut The Scribner-Bantam English Dictionary, terbitan Amerika Serikat dan Canada (1979), kinerja berasal dari akar kata “to perform” dengan beberapa “entries” (Suyadi, 1999: 1-2), berikut ini.

a. Melakukan, menjalankan, melaksanakan (to do or carry out, execute);

b. Memenuhi atau melaksanakan kewajiban suatu niat atau nazar (to discharge of fulfill, as vow);

c. Menggambarkan suatu karakter dalam suatu permainan (to portray, as a character in a play);

d. Menggambarkan dengan suara atau alat musik (to render by the voice or a musical instrument);

e. Melak­sanakan atau menyempurnakan tanggung jawab (to execute or complete an undertaking);

f. Melakukan suatu kegiatan dalam suatu permainan (to act a part in a play);

g. Memainkan (pertunjukan) musik (to perform music); dan

h. Melakukan sesuatu yang diharapkan oleh seseorang atau mesin (to do what is expected of a person machine).

Terkait dengan topik-topik ini, maka ‘entries’ yang paling relevan adalah: a, b, c, e, dan h, yakni melakukan suatu kegiatan dan menyempurnakannya sesuai dengan tanggung jawab atas hasil seperti yang diharapkan. Performance merupakan kata benda, dimana salah satu entry-nya adalah “thing done” (sesuatu hasil yang telah dikerjakan). Prawirasentono (1997: 2) mengatakan, bahwa: Kinerja atau performance adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi sesuai dengan wewenang atau tanggung jawab masing-masing, dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi yang bersangkutan yang legal dan tidak melanggar hukum serta sesuai dengan moral maupun etika. Ditambahkan juga, bahwa (Prawirosentono, 1999: 2) performance adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika. Apabila merujuk kepada pendapat tersebut, maka kinerja guru merupakan hasil kerja yang dicapai oleh seorang guru sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing yang didasari oleh pengetahuan, sikap, keterampilan dan motivasi dalam melakukan tugas dan kewajibannya.

Untuk menjadi tenaga kependidikan SLB, mereka tidak saja harus memiliki kemampuan dari segi pendidikan dalam ilmu-ilmu tentang pendidikan khusus dan pengalaman bekerja; tetapi juga didukung dari keinginan yang tulus ikhlas dalam diri guru untuk membantu dan melayani ABK sebagai motivasi guru yang kuat untuk mendorong tindakan guru SLB secara positif; dan lingkungan kerja yang nyaman bagi guru, sehingga kinerja yang diharapkan dapat terwujud.

B. Kompetensi Guru

Kompetensi mempunyai banyak makna, Broke dan Stone (1975) sebagaimana dikutip oleh Gumelar dan Dahyat (2002: 116) mengemukakan bahwa; kompetensi sebagai “… descriptive qualitative nature of teacher behavior appears to be entirely meaningful”. Usman (1994: 4) mengemukakan bahwa, kompetensi berarti suatu hal yang menggambarkan kualifikasi atau kemampuan seseorang, baik yang kualitatif maupun yang kuantitatif. Kompetensi guru ialah pengetahuan, sikap dan keterampilan yang ada pada seseorang agar dapat menunjukkan perilakunya sebagai guru (Surya, 2004: 137). Kompetensi merupakan gambaran hakikat kualitatif dan perilaku guru yang nampak sangat berarti, dalam melaksanakan sesuatu yang diperoleh melalui pendidikan.

Sedangkan Gaffar (1987: 159) mengemukakan bahwa, performance based teacher memerlukan penguasaan content knowledge, behavioral skill, dan human relation skill. Content Knowledge merupakan penguasaan materi pengetahuan yang akan diajarkan kepada peserta didik. Behavioral skills merupakan keterampilan perilaku yang berkaitan erat dengan penguasaan didaktis metodologis yang bersifat paedagogis maupun andragogis. Human relation skills merupakan keterampilan untuk melakukan hubungan baik dengan unsur manusia yang terlibat dalam proses pendidikan (tendik).

Hal ini juga semakin diperjelas dalam UU RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 1 ayat (10), bahwa “Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan”. Artinya, guru berfungsi meningkatkan martabat dan perannya sebagai agen pembelajaran wajib memiliki kompetensi guru untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Kompetensi pada dasarnya merujuk kepada seperangkat kemampuan yang terstandar yang diperlukan untuk menjalankan tugas pokok secara profesional. Apabila dimaknai pada hasil pekerjaan, kompetensi dapat dipandang sebagai pilarnya atau teras kinerja dari suatu profesi, dalam hal ini kinerja guru. Abin Syamsuddin Makmun (2000: 70-71) mengemukakan bahwa karakteristik kompetensi adalah:

a. Mampu melakukan sesuatu pekerjaan tertentu secara rasional, dalam arti ia harus memiliki visi dan misi yang jelas mengapa ia melakukan apa yang dilakukannya berdasarkan analisis kritis dan pertimbangan logis dalam membuat pilihan dan mengambil keputusan tentang apa yang dikerjakannya. “He is fully aware of why he is doing what he is doing”.

b. Menguasai perangkat pengetahuan (teori dan konsep, prinsip dan kaidah, hipotesis dan generalisasi, data/informasi dan sebagainya) tentang seluk beluk apa yang menjadi bidang tugas pekerjaannya. “He really knows what is to be done and how to do it”.

c. Menguasai perangkat keterampilan (strategi dan teknik, metode dan teknik, prosedur dan mekanisme, sarana dan instrumen, dan sebagainya) tentang cara bagaimana dan dengan apa harus melakukan tugas pekerjaannya. “He actually knows through which ways he should go and how to go through”.

d. Memahami perangkat persyaratan ambang (basic standards) tentang ketentuan kelayakan normatif minimal dan kondisi dari proses yang dapat ditoleransikan dan kriteria keberhasilan yang dapat diterima dari apa yang dilakukannya. (The minimal acceptable performances).

e. Memiliki daya (motivasi) dan citra (aspirasi) unggulan dalam melakukan tugas pekerjaannya. Ia bukan sekedar puas dengan memadai persyaratan minimal, melainkan berusaha menciptakan yang sebaik mungkin. “He is doing the best with a high achievement motivation”.

f. Memiliki kewenangan (otoritas) yang memancar atas penguasaan perangkat kompetensinya yang dalam batas tertentu dapat didemonstrasikan (observable) dan teruji (measurable), sehingga memungkinkan memperoleh pengakuan pihak berwenang (certifiable).

C. Kinerja Guru SLB Sebagai Aktualisasi Rumusan Kompetensi Guru

Kinerja adalah suatu bentuk hasil kerja atau hasil usaha berupa tampilan fisik, maupun gagasan. Kinerja juga sering dihubungkan dengan kompetensi pada diri pelakunya. Mitchell (1987: 343) menyatakan bahwa, kinerja meliputi beberapa aspek, yaitu: “…qualitiy of work, promptness, initiative, capability, and communication”. Artinya kinerja guru adalah kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan atau tugas yang dimiliki guru dalam menyelesaikan suatu pekerjaannya (Depdiknas, 2004).

Dalam UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab XI pasal 39 tentang Pendidikan dan Tenaga kependidikan, dinyatakan bahwa:

(1) Tenaga Kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan.

(2) Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.

Diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Standar Nasional Pendidikan Bab VI pasal 28 tentang Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, bahwa:

(1) Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

(2) Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

(3) Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi: (a) Kompetensi pedagogik; (b) Kompetensi kepribadian; (c) Kompetensi profesional; dan (d) Kompetensi sosial.

Disepakati, bahwa kompetensi guru sebagai aktualisasi kemampuan kerja guru berdasarkan UU RI Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, meliputi; kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Dirumuskan secara rinci adalah:

a. Kompetensi Pedagogik, adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi: 1) Pemahaman terhadap peserta didik; 2) Perancangan dan pelaksanaan pembelajaran; 3) Evaluasi hasil belajar; dan 4) Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

b. Kompetensi Kepribadian, adalah kemampuan kepribadian, meliputi: 1) Pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa; 2) Pribadi yang menjadi teladan bagi peserta didik; dan 3) Pribadi yang berakhlak mulia.

c. Kompetensi Profesional, adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan.

d. Kompetensi Sosial, adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

Menurut Natawijaya (2002: 3), bahwa secara konseptual dan umum, kinerja guru mencakup aspek: (a) kemampuan profesional, (b) kemampuan sosial, (c) kemampuan personal (pribadi). Standar-standar itu pada gilirannya dirinci secara lebih khusus menjadi 10 kemampuan dasar guru (Depdikbud, 1980), yaitu:

a. Penguasaan bahan pelajaran beserta konsep-konsep dasar keilmuannya.

b. Pengelolaan program belajar mengajar.

c. Pengelolaan kelas.

d. Penggunaan media dan sumber pembelajaran.

e. Penguasaan landasan-landasan kependidikan.

f. Pengelolaan interaksi belajar mengajar.

g. Penilaian prestasi siswa.

h. Pengenalan fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan.

i. Pengenalan dan penyelenggaraan administrasi sekolah.

j. Pemahaman prinsip-prinsip dan pemanfaatan hasil penelitian pendidikan untuk kepentingan peningkatan guru.

Berkaitan dengan kemampuan guru, Wijaya dan Rusyan (1991: 14-20) mengemukakan bahwa, kemampuan pribadi guru dalam proses belajar mengajar, terdiri dari: (a) Kemantapan dan integrasi pribadi, (b) Peka terhadap perubahan, (c) Adil, jujur dan objektif, (d) Bersikap disiplin dalam melaksanakan tugas, (e) Ulet dan tekun bekerja, (f) Simpatik, menarik, luwes, bijaksana, dan sederhana, (g) Bersifat terbuka, (h) Kreatif, (i) Berwibawa.

Sedangkan kemampuan profesional guru dalam proses belajar mengajar, terdiri dari: (a) Mampu menguasai bahan bidang studi; (b) Mampu mengelola program belajar mengajar; (c) Mampu mengelola kelas; (d) Mampu mengelola dan menggunakan media serta sumber belajar; (e) Mampu menilai prestasi belajar mengajar; (f) Memahami prinsip-prinsip pengelolaan lembaga dan program pendidikan; (g) Menguasai metode berpikir; (h) Terampil memberikan bantuan dan bimbingan kepada siswa; (i) Meningkatkan kemampuan menjalankan misi profesional; (j) Memiliki wawasan tentang penelitian pendidikan; (k) Mampu menyelenggarakan penelitian sederhana; (l) Mampu memahami karakteristik siswa; (m) Mampu menyelenggarakan administrasi sekolah; (n) Memiliki wawasan tentang inovasi pendidikan; (o) Berani mengambil keputusan; (p) Memahami kurikulum; (q) Mampu bekerja berencana dan terprogram; dan (r) Mampu menggunakan waktu secara tepat.

Kemampuan sosial guru dalam proses belajar mengajar menurut Wijaya dan Rusyan (1991) bahwa guru harus mampu; (a) Terampil berkomunikasi dengan siswa; (b) Bersikap simpatik baik kepada siswa dan guru; (c) Dapat bekerja sama dengan BP3; (d) Pandai bergaul dengan kawan sekerja dan mitra pendidikan.

Kompetensi guru yang telah diungkapkan di atas merupakan aktualisasi dari kinerja guru secara umum yang harus dikuasai dan menjadi tampilan fisik guru di dalam melaksanakan proses pembelajaran di sekolah. Untuk kompetensi guru pendidikan khusus, hal ini didasari oleh tiga kemampuan, yaitu; (1) kemampuan umum (general ability), (2) kemampuan dasar (basic ability), dan (3) kemampuan khusus (specific ability).

Kemampuan umum adalah kemampuan yang diperlukan untuk mendidik peserta didik pada umumnya (anak normal), kemampuan dasar adalah kemampuan yang diperlukan untuk mendidik peserta didik berkebutuhan khusus, sedangkan kemampuan khusus adalah kemampuan yang diperlukan untuk mendidik peserta didik berkebutuhan khusus jenis tertentu (spesialisasi). Berkenaan dengan hal ini, guru Pendidikan Luar Biasa diharapkan memiliki kompetensi sebagai berikut (Depdiknas, 2004: 21-26):

a. Kemampuan Umum (General Ability), meliputi:

1) Memiliki ciri warga negara yang religius dan berkepribadian.

2) Memiliki sikap dan kemampuan mengaktualisasikan diri sebagai warga Negara.

3) Memiliki sikap dan kemampuan mengembangkan profesi sesuai dengan pandangan hidup bangsa.

4) Memahami konsep dasar kurikulum dan cara pengembangannya.

5) Memahami desain pembelajaran kelompok dan individual.

6) Mampu bekerjasama dengan profesi lain dalam melaksanakan dan mengembangkan profesinya.

b. Kemampuan Dasar (Basic Ability), meliputi:

1) Memahami dan mampu mengidentifikasi anak berkebutuhan khusus.

2) Memahami konsep dan mampu mengembangkan alat asesmen serta melakukan asesmen anak berkebutuhan khusus.

3) Mampu merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus.

4) Mampu merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi program bimbingan dan konseling anak berkebutuhan khusus.

5) Mampu melaksanakan manajemen ke-PLB-an.

6) Mampu mengembangkan kurikulum PLB sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak berkebutuhan khusus serta dinamika masyarakat.

7) Memiliki pengetahuan tentang aspek-aspek medis dan implikasinya terhadap penyelenggaraan PLB.

8) Memiliki pengetahuan tentang aspek-aspek psikologis dan implikasinya terhadap penyelenggaraan PLB.

9) Mampu melakukan penelitian dan pengembangan di bidang ke-PLB-an.

10) Memiliki sikap dan perilaku empati terhadap anak berkebutuhan khusus.

11) Memiliki sikap profesional di bidang ke-PLB-an.

12) Mampu merancang dan melaksanakan program kampanye kepedulian PLB di masyarakat.

13) Mampu merancang program advokasi.

c. Kemampuan Khusus (Specific Ability), meliputi:

Kemampuan khusus merupakan kemampuan keahlian yang dipilih sesuai dengan minat masing-masing tenaga kependidikan. Pada umumnya masing-masing guru memiliki satu kemampuan khusus (specific ability). Kemampuan tersebut adalah:

1) Mampu melakukan modifikasi perilaku.

2) Menguasai konsep dan keterampilan pembelajaran bagi anak yang mengalami gangguan/kelainan penglihatan.

3) Menguasai konsep dan keterampilan pembelajaran bagi anak yang mengalami gangguan/kelainan pendengaran/komunikasi.

4) Menguasai konsep dan keterampilan pembelajaran bagi anak yang mengalami gangguan/kelainan intelektual.

5) Menguasai konsep dan keterampilan pembelajaran bagi anak yang mengalami gangguan/kelainan anggota tubuh dan gerak.

6) Menguasai konsep dan keterampilan pembelajaran bagi anak yang mengalami gangguan/kelainan perilaku dan sosial.

7) Menguasai konsep dan keterampilan pembelajaran bagi anak yang mengalami kesulitan belajar.

Aktualisasi kinerja guru Pendidikan Luar Biasa yang ditampilkan tentunya merupakan aktualisasi kerja yang bermutu. Dengan menguasai kompetensi dasar di atas, bisa dinyatakan guru tersebut telah memiliki kualitas kerja yang bermutu, yang beimbas pada produktivitas pendidikan yang berlangsung di Sekolah Luar Biasa. Guru Pendidikan Luar Biasa merupakan salah satu komponen pendidikan yang secara langsung mempengaruhi tingkat keberhasilan anak berkebutuhan khusus dalam menempuh perkembangannya.

Dalam menghadapi lajunya perkembangan ilmu pendidikan dan tantangan yang besar di dunia Pendidikan Luar Biasa, pengembangan sumber daya manusia (guru) merupakan suatu hal yang sangat urgen dalam mengadapi modernisasi. Pengembangan sumber daya manusia (guru Pendidikan Luar Biasa) akan menghasilkan pengetahuan, keterampilan, dan kapasitasnya sesuai dengan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi.

Sumber Bacaan:

Anwar, M.I. (2003). Manajerial. Bandung: UPI-Jurnal Manajemen dan Sistem Informasi.

Castetter, William B. (1996). The Human Resource Function in Educational Administration Sixth Edition. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

Gaffar, Mohammad Fakry. (1987). Performan Based Teacher Education. Bandung: IKIP Bandung Jurnal Suatu Alternatif Dalam Pembaharuan.

Gibson, James L., John M. Ivancevich dan James H. Donnelly, Jr. (1996). Organisasi, Perilaku, Struktur, Proses, (Alih Bahasa: Nunuk Adiarni). Jakarta: Penerbit Binarupa Aksara.

Gumelar, Awan dan Tjep Dahyat. (2002). Kapita Selekta MBS Pengelolaan Pendidikan Yang Profesional Berwawasan Masa Depan, Relevan, dan Lebih Bermutu. Bandung: Gatra Karya Prima.

Hoy, Wayne K. dan Cecil G. Miskel. (2001). Educational Administration Theory, Research, And Practiced 6th ed., International Edition, Singapore: Mc Graw-Hill Co.

Makmun, Abin Syamsuddin. (2000). Konsep Dasar dan Penilaian Kompetensi Profesional Tenaga Kependidikan. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Mitchell, Terence R. dan Larson. (1987). People and Organization: An Introduction to Organizational Behavior. Singapore: Mc Graw Hill Inc.

Mulyasa, Enco. (2005). Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Prawirosentono, Suyadi. (1999). Kebijakan Kinerja Karyawan. Edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE.

Presiden RI. (1994). PP RI Nomor 72 Tahun 1991 Tanggal 31 Desember 1991 Tentang Pendidikan Luar Biasa. Jakarta: Penerbit Sinar Grafika.

.(2003). Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Penerbit Fokusmedia.

.(2005). Standar Nasional Pendidikan (SNP) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005. Bandung: Penerbit Fokusmedia.

.(2006). Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Bandung: Penerbit Citra Umbara.

Rivai, Veithzal dan Ahmad Fawzi Mohd Basri. (2005). Performance Appraisal: Sistem yang tepat untuk menilai kinerja karyawan dan meningkatkan daya saing perusahaan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Robbin, Stephen P. (1997). Organizational Behavior: Concept, Controversies and Application. New Jersey: Prentice-Hall.

Sofiah, Siti. (2004). Profesionalisme dan Mutu Pendidikan. Jurnal. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Balitbang.

Spencer, Lyle M. dan Signe M. Spencer. (1993). Competence at Work: Medels For Superior Performance. New York: John Willey & Sons, Inc.

Surya, Mohamad. (2004). Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: Pustaka Bani Quraisi.

Wijaya, C dan Rusyan. (1991). Kemampuan Dasar Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

…..……(2004). Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Terpadu/Inklusi: Pengadaan dan Pembinaan Tenaga Kependidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Luar Biasa.

……..…(2005). Profil Pendidikan Jawa Barat Tahun 2005. Bandung: Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

……..…(2006). Kaleidoskop 5 Tahun Perjalanan Sub Dinas Pendidikan Luar Biasa Jawa Barat. Bandung: Subdin PLB Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: