KERJASAMA GURU dan ORANGTUA DALAM LAYANAN BKPBI ANAK TUNARUNGU

Komunikasi yang baik dalam pendidikan anak berkebutuhan khusus, sangat diperlukan. Hal ini berlaku untuk semua jenis kelainan. Komunikasi memang memegang peranan penting dalam diri individu khususnya dan dalam hidup manusia pada umumnya. Dimana sejumlah kebutuhan hanya dapat disampaikan lewat komunikasi. Demikian halnya dengan anak berkebutuhan khusus dengan segala kekurangan dan hambatannya. Untuk memenuhi kebutuhan komunikasi, guru berupaya agar kemampuan berkomunikasi dapat berkembang secara optimal.

Salah satu anak berkebutuhan khusus yang mengalami hambatan komunikasi adalah anak tunarungu. Anak tunarungu dengan keterbatasan pendengaran, sebagai akibat dari hilangannya pendengaran mengalami hambat perkembangan kemampuan dalam berkomunikasi secara lisan, sehingga menghambat pula pada proses kegiatan belajar yang merupakan bagian terpenting dalam pendidikan. Untuk itu, diperlukan peningkatan kualitas berkomunikasi. Salah satu upaya dalam meningkatkan kualitas berkomunikasi melalui optimalisasi sisa pendengaran, baik menggunakan alat bantu mendengar (ABM) atau tanpa alat bantu mendengar. Untuk memenuhi hal tersebut, seorang guru dituntut untuk dapat mencari alternatif pemecahan dan upaya-upaya dalam mengoptimalkan sisa pendengaran anak tunarungu.

Salah satu usaha untuk mengoptimalkan sisa pendengaran anak tunarungu dilakukan guru dalam bentuk program khusus Bina Komunikasi Persepsi Bunyi dan Irama atau lebih dikenal dengan singkatan BKPBI. Program BKPBI yang dilakukan sekolah merupakan kegiatan berkelanjutan, dengan cara melatih anak mulai dari tahap yang paling awal, yaitu latihan mendeteksi bunyi untuk mengetahui ada tidak adanya bunyi; dilanjutkan dengan latihan mendeskriminasikon bunyi agar anak mampu membeda-bedakan sifat-sifat bunyi; selanjutnya latihan mengidentifikasi bunyi agar anak mengenal bunyi dari berbagai sumber bunyi; dan pada tahap akhir adalah latihan memahami bunyi agar mampu menanggapi apabila terdengar bunyi. Moores (2001:27) mengemukakan bahwa, “dalam memberikan pelajaran kepada anak tunarungu harus ada keseimbangan antara bidang-bidang khusus dengan bidang akademik, berapa banyak bidang-bidang khusus seperti latihan berbicara dan pendengaran yang dialokasikan dibandingkan dengan bidang akademik, karena keduanya harus diberikan secara seimbang.”

Struktur kurikulum SDLB tunarungu mencantumkan muatan bidang akademik lebih banyak dibandingkan dengan bidang khusus. Beban jam pelajaran per-minggu untuk kelas dasar adalah, 30 jam per-minggu, dari waktu tersebut alokasi bidang khusus Bahasa Indanesia hanya lima jam ditambah program khusus BKPBI dua jam, sisanya 23 jam adalah bidang akademik. Atas dasar inilah maka sangat diperlukan kerjasama antara guru dan orangtua. Hal ini dimaksudkan agar ada keseimbangan antara bidang khusus dan bidang akademik. Melalui kegiatan belajar di rumah dengan bimbingan orang tua, anak tunarungu diharapkan mampu berkomunikasi dengan teman­-temannya, orangtua, guru dan masyarakat sekitarnya.

Komunikasi di dalam situasi kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga, dapat menumbuh kembangkan berbagai kemampuan bagi anak tak terkecuali bagi anak gangguan pendengaran. Orangtua berperan penting dalam mengisi dan membina anak melalui pendidikan yang bernilai positif. Orang tualah yang dijadikan pemimpin di suatu keluarga, di mana kedua orangtua berperan aktif dalam pendidikan anaknya tidak terkecuali mendidik anak yang mengalami gangguan.

Orangtua memegang peranan penting dalam kehidupan seorang anak. Ia berfungsi sebagai pendidikan di lingkungan keluarga. Orang tua wajib memberikan perhatian dan bimbingan sesuai dengan perkembangan anaknya. Orangtua harus memiliki kemampuan dalam pengetahuan dan berbagai keterampilan, memilih jiwa besar atau optimis dalam meningkatkan berbagai potensi anaknya dengan optimal. Ia juga harus memperdulikan karekteristik dan kebutuhan utama anaknya terutama dalam kegiatan belajar yang dilakukan di rumah. Hal ini sangat dipahami, mengingat waktu 24 jam hanya ± enam jam anak berada di sekolah. Artinya sekitar 25% anak belajar di sekolah, sedangkan sisanya 18 jam atau 75% anak berada di lingkungan keluarga. Keadaan ini memotivasi guru untuk lebih optimal bekerjasama dengan orangtua dalam kegiatan belajar anak tunarungu, agar tumbuh keserasian antara pendidikan yang dilaksanakan di sekolah dan di rumah. Dengan demikian posisi keluarga sangat strategik peranannya dalam mengembangkan kemampuan berkomunikasi anak tunarungu.

Ruang lingkup BKPBI yang dilaksanakan guru di sekolah meliputi (Depdiknas, 2007: 2-3):

1. Sasaran. BKPBI diberikan untuk siswa tunarungu mulai dari TKLB, SDLB, sampai dengan SMPLB. BKPBI juga diberikan kepada siswa yang masuk sekolah setelah berusia lebih dari 6 tahun (terlambat masuk sekolah). Siswa yang tergolong tunarungu; baik ringan, sedang maupun berat hingga total serta siswa yang memakai ABM dan tidak memakai ABM semua harus memperoleh program khusus BKPBI dengan benar.

2. Program. Cakupan materi BKPBI secara ringkas disusun secara berjenjang mulai dari penghayatan bunyi dan sifatnya paling primitif sampai dengan bunyi sebagai lambang yang paling tinggi nilainya yaitu: (a) Taraf penghayatan bunyi primitif atau taraf penghayatan bunyi-bunyi latar belakang. Bunyi primitif atau bunyi latar belakang (Elly Sri Melinda, 2008: 2) meliputi: Bunyi alam, yaitu gemercik air, gemuruh angin, tiupan angin, pepohonan, banjir, kilat, dan lain-lain; Suara binatang, yaitu suara anjing, suara kucing, suara ayam, suara bebek, dan lain-lain; Suara manusia yaitu, suara mama, papa, adik, dan lain-lain; Suara yang dibuat manusia, yaitu bunyi toktok baso, kleneng es, bunyi dari organ artikulasi, dan lain-lain. (b) Taraf penghayatan bunyi sebagai isyarat atau tanda, termasuk bunyi-bunyi alat musik. Jenis dan macam alat musik yang dapat digunakan (Elly Sri Melinda, 2008: 5) adalah: Alat musik pukul, yaitu gamelan, gendang, drum; Alat musik petik, yaitu gitar, dawai, dan lain-lain; Alat musik tiup, yaitu suling, terompet, dan lain-lain; Alat musik gesek, yoitu biola, dan lain-lain; Alat musik elektronik, yaitu organ, gitar elektrik; Alat musik daerah, yaitu gamelan jawa, gamelan sunda, gamelan bali, kulintang, angklung, seruling, kecapi dan lain-lain; Alat musik barat, yaitu piano, biota, organ, melodi, dan lain-lain. (c) Taraf penghayatan bunyi yang tertinggi, yaitu penghayatan bunyi bahasa atau percakapan yang terjadi saat ada interaksi antar manusia. Bunyi-bunyi bahasa yang didengar siswa secara spontan melalui percakapan antar manusia, misalnya percakapan dalam ekspresi marah, sedih, gembira, juga bentuk percakapan antar manusia yang, menunjukkan kalimat berita, kalimat tanya, atau kalimat perintah.

3. Tahapan-tahapan dalam pembelajaran/pembinaan program khusus BKPBI yang dilaksanakan sekolah meliputi: (a) Tahapan deteksi bunyi, yaitu kemampuan siswa dalam menyadari ada dan tidak adanya bunyi, dengan menggunakan atau tanpa menggunakan alat bantu dengar. (b) Tahap diskriminasi bunyi, yaitu kemampuan siswa dalam membedakan berbagai macam sifat bunyi, menghitung bunyi, mencari arah bunyi, membedakan sumber bunyi, membedakan birama/membedakan irama musik baik memakai ABM (Alat Bantu Mendengar) atau tanpa ABM. (c) Tahap identifikasi bunyi, yaitu kemampuan siswa dalam mengenal ciri-ciri berbagai macam sumber bunyi dan berbagai sifat bunyi dengan menggunakan ABM. (d) Tahap komprehensi, yaitu kemampuan anak dalam memahami makna berbagai macam bunyi terutama bunyi bahasa.

4. Metode dan Pendekatan. Pelaksanaan BKPBI tidak boleh terlepas dari pengajaran bahasa, maka latihan BKPBI musik selalu diakhiri dengan latihan BKPBI bahasa. Oleh karena itu pemilihan metode sebaiknya dikaitkan dengan metode yang dipergunakan dalam pengajaran bahasa. Metode yang dianjurkan dalam pelaksanaan BKPBI terutama percakapan, ditunjang berbagai metode yang relevan, yaitu metode permainan, demostrasi imitasi, pemberian tugas, dan metode observasi dengan cara mengamati respon anak terhadap rangsangan bunyi. Adapun pendekatan metodenya antara lain: (a) Pendekatan multisensoris (visual, auditoria, taktil/pengalaman kontak) sedikit demi sedikit menuju pendekatan unisensoris atau eka-indra artinya hanya menggunakan indra pendengaran saja. (b) Pendekatan klasikal maupun individual. (c) Pendekatan BKPBI aktif, maksudnya siswa secara aktif menciptakan bunyi dan direspon sendiri, dan pendekatan pasif maksudnya siswa menyimak bunyi yang diproduksi oleh orang lain dan kemudian meresponnya. (d) Pendekatan formal artinya: direncanakan/diprogramkan. (e) Pendekatan tak formal artinya: tidak direncanakan jika terjadi bunyi secara tiba-tiba.

5. Latihan Indera Pendengaran. Latihan indera pendengaran dimaksudkan untuk melatih kepekaan anak tunarungu terhadap respon bunyi yang didengarnya, sehingga sisa pendengaran anak tunarungu dapat optimal digunakan. Bentuk latihan indera pendengaran yang dapat diterapkan pada anak tunarungu di sekolah adalah: (a) Latihan auditory attention. (b) Latihan auditory localitation. (c) Latihan auditory discrimination. (d) Latihan auditory spatial relationship. (e) Latihan auditory examination. (f) Latihan auditory memory. (g) Latihan auditory integration. (h) Latihan auditory closure. (i) Latihan auditory tracking. (j) Latihan auditory convergensi. (k) Latihan auditory signal permanent/constant. (1) Latihan auditory figure dan backround.

Pelaksanaan layanan BKPBI di sekolah, sangat diutamakan terlaksana dalam bentuk latihan-latihan untuk memanfaatkan sisa pendengaran anak tunarungu. Melalui latihan tersebut anak akan terlatih untuk memahami bunyi-bunyian.

Kerjasama antara guru dan orang tua dalam pelaksanaan latihan/binaan BKPBI harus terjalin dengan baik. Dalam kesempatan tertentu guru BKPBI dapat memberikan informasi, petunjuk yang berkaitan dengan teknik latihan BKPBI. Pengajaran klasikal dapat diberikan guru dalam bentuk latihan praktis untuk mengoptimalisasikan sisa pendengaran. Latihan atau binaan program khusus BKPBI di sekolah dilaksanakan oleh guru, sedangkan latihan dan binaan di rumah dilaksanakan oleh orangtua. Kerjasama antara guru dan orangtua dalam meningkatkan kemampuan peserta didik sangat penting, artinya harus disadari bahwa anak tunarungu memerlukan bantuan baik di sekolah maupun di rumah agar, kemampuan komunikasi anak meningkat dibandingkan sebelumnya.

Kontribusi orangtua dalam pendidikan anak tunarungu untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi (Permanarian dan Hernawati, 2004: 31) meliputi: 1. Didiklah anak tunarungu seperti mendidik anak-anak yang mendengar; 2. Libatkan anak tunarungu dalam kegiatan keluarga; 3. Jangan memanjakan anak tunarungu secara berlebihan; 4. Berilah kesempatan bermain seluas mungkin pada anak tunarungu; 5. Anak tunarungu harus diberi contoh perilaku yang baik; 6. Sediakan waktu khusus untuk bersama-sama dengan anak tunarungu; 7. Berikanlah kewajiban yang sama pada anak tunarungu dalam melaksanakan tugas­-tugas kerumahtanggaan; 8. Pupuklah rasa cinta akan keindahan alam sekitar; dan 9. Gunakan setiap kesempatan untuk merangsang perkembangan bahasa dan bicara anak tunarungu.

Sedangkan bentuk kerjasama yang dapat dilakukan guru dan orangtua (Santosa, 2000: 17) dalam melatih anak tunarungu adalah:

1. Guru secara aktif memberikan/menyampaikan informasi kepada setiap orangtua tentang pentingnya peningkatan kemampuan komunikasi pada anak tunarungu.

2. Orangtua secara aktif merespon program layanan yang berupa penyuluhan tentang pentingnya peningkatan kemampuan komunikasi untuk anak tunarungu yang disampaikan oleh guru, bisa jadi ini dikarenakan program sekolah yang jelas dan kesinambungan yang didukung dengan adanya kemauan dan kemampuan guru dan orangtua yang sama-sama memandang pentingnya kerjasama tersebut dilakukan.

3. Adanya suatu layanan konsultasi bagi orangtua yang saling berhubungan, untuk membicarakan perkembangan kemampuan komunikasi anak tunarungu.

4. Guru dan orangtua saling mengunjungi dalam upaya menyamakan persepsi dan melihat dari dekat aktivitas anak dalam berkomunikasi menggunakan bicara di sekolah dan di rumah.

5. Guru dan orangtua bersama-sama membuat program peningkatan kemampuan komunikasi anak tunarungu.

6. Komunikasi guru dan orangtua harus sering dilakukan, secara terbuka dan lancar.

7. Guru dan orangtua perlu memecahkan kesulitan yang dihadapi anak tunarungu dalam meningkatkan kemampuan komunikasi.

8. Guru dan orangtua melakukan penilaian atas kemampuan anak tunarungu dalam berkomunikasi.

Sebelum dilakukan kerjasama diperlukan kesamaan pandangan, sikap, dan perlakuan antara guru di sekolah dan orangtua di rumah, untuk itu diperlukan pengetahuan dan keterampilan tentang hal tersebut. Untuk mencapai ke arah tersebut, guru memiliki kewajiban untuk memberikan informasi kepada orangtua tentang kemampuan anak dan pendidikannya. dengan demikian sebuah pola hubungan yang harmonis antar orangtua dan sekolah harus diciptakan dan dibina.

Berikut ini adalah jalan untuk menciptakan harmonisasi dalam interaksi orang tua dan guru (Agus Sensus, 2007) yaitu:

1. Upayakan selalu kontak dengan orangtua dalam nuansa yang positif. Cobalah hindari jargon atau istilah yang rumit dalam bidang pendidikan yang orangtua tidak mengerti.

2. Berdayakan buku komunikasi, gunakan buku itu untuk menceritakan apa yang siswa pelajari, pemberitahuan mengenai PR, memberikan pujian serta pemberitahuan lain mengenai anak didik kita.

3. Adakan pertemuan dengan orang tua seluruhnya saat tahun ajaran baru dimulai, kenalkan diri dan biarkan orangtua menyampaikan kekhawatiran serta harapan mereka terhadap kita sebagai guru, kaitannya dengan proses pendidikan putra­putrinya.

4. Cobalah untuk selalu mengerti kesibukan orangtua anak didik kita.

5. Ajak orangtua untuk menjadi relawan di kelas kita, menjadi bintang tamu saat pembelajaran mengenai topik atau yang lainnya.

6. Jadikan orang tua juga sebagai sumber belajar.

7. Adakan pelatihan mengenai pendidikan anak. Hal ini penting agar ada kesinambungan antara polo asuh di rumah dan di sekolah.

8. Adakan workshop mengenai peningkatan kemampuan bidang khusus anak didik. Judulnya misalnya; “Bagaimana mengajarkan BKPBI untuk anak tunarungu.”

9. Jadikan situasi pengambilan rapor anak didik sebagai jalan untuk merayakan keberhasilan dan pencapaian siswa.

Penyusunan latihan/binaan dalam mengoptimalkan berkomunikasi anak tunarungu dapat dilakukan di sekolah. Dalam penyusunan latihan/binaan tersebut harus berpegang pada kebutuhan dan karakteristik anak setiap anak. Untuk memperoleh gambaran atau sejumlah informasi yang utuh tentang karakteristik dan kemampuan berkomunikasi dari setiap anak, perlu adanya asesmen. Dengan demikian pengembangan dan pelaksanaan kerjasama guru dan orangtua dalam mengoptimalkan kemampuan berkomunikasi anak tunarungu dapat dilaksanakan dengan sistematis, yang tahapannya meliputi: pembentukan komitmen guru dan orangtua, pembuatan program latihan/binaan, pelaksanaan program, dan evaluasi. Pembentukan komitmen antara guru dan orangtua diperlukan agar terdapat kesamaan pandangan, perlakuan, dan kebulatan tekad mengenai sikap untuk tercapainya kerjasama guru dan orangtua dalam meningkatkon kemampuan berkomunikasi anak tunarungu.

SUMBER BACAAN:

Agus, S. (2007). Berkomunikasi dengan Orang Tua. [Online]. Tersedia: http://gurukreatif.wordpress.com/2007/12/06/berkomunikasi-dengan-orang-tua. [20 Desember 2007].

Bunawan, L. dan Cecilia Susila Yuwati. (2000). Penguasaan Bahasa Anak Tunarungu. Jakarta: Yayasan Santi Rama.

Direktur Pembinaan Sekolah Luar Biasa. (2007). Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Program Khusus Bina Persepsi Bunyi dan Irama SDLB dan 5MPLB Tunarungu. Jakarta: Direktorat Pembinaan 5LB Dirjen Manajemen Dikdasmen Depdiknas.

Melinda, E. (2008). “Pelatihan Program Khusus BPBI: Ruang Lingkup Materi Bina Persepsi Bunyi dan Irama”. Makalah pada Diklat Pelatihan Guru BPBI BPG, Bandung.

Moores, Danald F. (2001). Educating The Deaf Psychology, Principles, and Pretties, First Edition. New York: Houghton Mifflin Company.

Nugroho, B. (2002). Diktat Pelatihan Pemanfoatan Peralatan Audiometri, Bina Wicara, Bina Persepsi Bunyi dan Irama: Dasar-loser Bina Persepsi Bunyi dan Irama. Jakarta: Yayasan Pangudi Luhur.

Sadja’ah, E. (2003). Bina Bicara Persepsi Bunyi dan Irama Bandung: San Grafika.

Sadja’ah, E. (2003). Pendidikan Bahasa Raqi Anak Gangguan Pendengaran Dalam Keluarga. Bandung: San Grafika.

Somad, P dan Tati Hernawati. (1996). Ortopedagogik Anak Tunarungu. Jakarta: Direktorat Pendidikan Tinggi Depdikbud.

Sunaryo dan Sunardi. (2006). Intervensi Dini Anak Serkebutuhan Khusus Jakarta; Direktorat Pendidikan Tinggi Depdikbud.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: