APA YANG KUINGINKAN?

Hampir semua orang tua anak tunagrahita berharap anak mereka mampu membaca, menulis, dan berhitung. Terutama bagi mereka yang berada di daerah pinggiran kota dan minim informasi. Tuntutan ini sesungguhnya merupakan tantangan bagi guru untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitas guru. Tapi bagi sebagian guru, keinginan ini sering dianggap terlalu berlebihan. Seolah-olah orang tua tidak mengenali kemampuan dasar anak. Dilema ini amat sering ditemukan pada masa awal-awal anak masuk sekolah. Tahun-tahun pertama, akan digunakan orang tua untuk membuat tuntutan-tuntutan yang dianggap sebagai hak mereka sebagai orang tua. Cerita lain yang juga amat sering terdengar adalah saat anak telah bertahun-tahun sekolah, tetapi dinyatakan belum mampu apa-apa (maksud orang tua adalah belum mampu  membaca, menulis, dan berhitung).

Membaca, menulis, dan berhitung memang tidak dipungkiri masih menjadi ukuran keberhasilan orang tua saat mereka menyekolahkan anak tunagrahita. Ada kebahagiaan dan kebanggaan yang sangat jelas tampak dari wajah para orang tua saat anak mereka dianggap lebih mampu membaca, menulis, dan berhitung dibandingkan teman-teman sekelasnya. Pernahkah terpikir oleh kita semua, apakah anak-anak tunagrahita juga merasakan demikian?

Jika diamati dalam interaksi mereka di sekolah, umumnya mereka sangat menikmati saat-saat bisa bermain, bercengkrama dengan temannya, saat berjalan-jalan, saat bernyanyi, saat mewarnai, saat merobek-robek kertas, saat berteriak keras, saat memainkan boneka, saat menendang bola, saat berkejar-kejaran. Keasyikan ini tidak berlangsung lama, tiba-tiba perintah belajar menggema… Ayo belajar, ayo belajar dulu!! Lalu buku dan pinsil harus di keluarkan dari tas. Suasana kelaspun secara otomatis berubah. Guru yang greget karena anak-anak masih asyik dengan dunianya. Anak-anak yang tak mampu memprotes situasi ini. Mereka hanya mampu menunjukkan keengganan dari sikap yang susah dikendalikan, ogah menggerakkan tangan, mengacak-acak buku, mematahkan ujung pinsil, duduk diam tak bergerak, atau lebih suka mengganggu teman mereka. Ketegangan tidak saja menjadi milik guru, tetapi sesungguhnya juga milik anak-anak. Ketika waktu pulang tiba, wajah-wajah mereka berubah lebih menyenangkan. Seolah ingin mengatakan, Asik…pulang!! Tetapi,… ini belum berakhir. Sebagian orang tua mereka akan bertanya dan memeriksa buku anak-anak. Kamu nulis apa tadi? Koq tidak ada PR?

Ini bukan gambaran kelas secara menyeluruh di tanah air kita. Masih diyakini ada kelas-kelas lain dibelahan tanah air kita yang mampu memberi warna secara berbeda. Warna dimana anak tunagrahita memiliki kebebasan untuk berekspresi dan belajar dengan lebih enjoy. Kelas yang memberikan kebebasan bagi anak tunagrahita untuk memilih apa yang disukai, dan kemampuan guru untuk memadukannya dengan kurikulum yang berlaku dan tetap menghormati tuntutan orang tua. Kebebasan yang tetap menjunjung tinggi nilai-nilai yang dibutuhkan anak tunagrahita untuk hidup dimasa depan lebih baik.

Membutuhkan proses dan latihan yang cukup berat. Tetapi diyakini mampu dilaksanakan, selama guru mampu mengeksplorasikan imajinasinya dalam karya-karya yang berbeda. Hal terdekat yang seharusnya sudah mampu dilaksanakan guru adalah aplikasi dari model pebelajaran tematik. Tentunya komunikasi program pembelajaran juga perlu disampaikan kepada orang tua. Sehingga seluruh hak anak tunagrahita dapat dipenuhi dan terlindungi. Hal ini juga dimaksudkan untuk menghindari mis-informasi antara program guru dan tuntutan orang tua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: