DISLEKSIA

Disleksia adalah suatu masalah kesulitan belajar khusus. Disleksia mempengaruhi kemampuan seseorang untuk belajar, mengolah, dan mengerti suatu informasi dengan baik. Secara khusus, hal ini menyebabkan masalah dalam membaca dan menulis karena seseorang dengan problem disleksia mempunyai kesulitan mengenali dan mengartikan suatu kata, mengerti isi suatu bacaan, dan mengenali bunyi.
Kesulitan yang dihadapi anak disleksia adalah kesulitan mengenal kata-kata, sulit mengeja. Secara umum keadaan ini bisa jadi dari genetik. Telah diketahui, bahwa ada beberapa perbedaan otak anak disleksia dengan anak lain, yaitu: (1) Otak anak disleksia tidak menunjukkan asimetri pada pusat berbahasa di otak, di daerah temporal. Pada anak biasa, daerah temporal di otak kiri lebih besar dibandingkan kanan, sedangkan pada anak disleksia otak kiri dan kanan sama saja. (2) Pada anak disleksia terdapat gangguan sel saraf di beberapa daerah otak yang berhubungan dengan kemampuan membaca (misalnya daerah parietal dan temporal), yang terjadi sejak anak masih dalam kandungan.
Identifikasi disleksia sangat sulit dilakukan oleh guru atau orang tua. Namun tanda dan gejala disleksia secara umum dapat diamati.
1.    Kesulitan mengasosiasikan (menghubungkan arti) suatu huruf dengan bunyinya.
2.    Terbalik dengan huruf (dua jadi bua) atau kata (tik jadi kit).
3.    Kesulitan membaca kata tunggal.
4.    Kesulitan mengeja kata tunggal.
5.    Kesulitan mencatat huruf/kata dari papan tulis atau buku.
6.    Kesulitan mengerti apa yang mereka dengar (auditory).
7.    Kesulitan mengatur tugas, material, dan waktu.
8.    Kesulitan mengingat isi materi baru dan materi sejenisnya.
9.    Kesulitan dengan tugas menulis.
10.    Kesulitan pada kemapuan motorik halus (misalnya memegang alat tulis, mengancing baju).
11.    Tidak terkoordinasi.
12.    Masalah perilaku dan/atau tidak suka membaca.
Jika seorang anak menunjukkan sejumlah tanda-tanda disleksia, rujuklah anak kepada lembaga pendidikan khusus atau ahli profesional yang terlatih dalam masalah disleksia. Hal ini dilakukan untuk mengevaluasi anak secara menyeluruh (menentukan diagnosis dengan benar melalui pemeriksaan psikologis dan fisik).
Hasil evaluasi menunjukkan bagaimana cara anak disleksia belajar paling baik, cara mengatasi kesulitan yang spesifik, dan melakukan kegiatan individual. Ada anak yang belajar lebih baik dengan cara visual (melihat), auditori (mendengarkan), dan taktil (menyentuh/meraba). Gaya belajar yang sesuai kebutuhan anak, sangat penting untuk diperhatikan agar anak dapat belajar dengan baik. Peran guru dan orang tua sangat penting untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya dalam memperbaiki cara belajar anak secara individual.
Beberapa tipe disleksia bisa menunjukkan perbaikan sejalan dengan bertambahnya usia anak. Anak yang mendapat terapi yang efektif sejak TK dan kelas 1 SD menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan anak yang baru mendapat pertolongan setelah kelas 3 SD. (Rien,1/11/2008)
Sumber: … (2008). Apa Itu Disleksia?. Bandung: Dept PLB, P4TK TK-PLB.

Satu Balasan ke DISLEKSIA

  1. Gunansyah mengatakan:

    Punten.. ngiring ngalangkung… sae oge gening… dumugi dina raraga diajar, urang tiasa ngagunakeun media naon bae diantawisna blog dina internet.

    Wilujeng ka SLB Negeri Subang, anu parantos memulai penggunaan media Internet dina raraga ngaronjatkeun mutu layanan pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: