Perluasan Akses Sekolah Inklusif Dilihat dari Perspektif Ekonomi

Anak-anak yang terancam putus sekolah dan anak-anak yang putus sekolah adalah mereka yang memperoleh prioritas dalam pembiayaan pembangunan pendidikan. Mereka adalah anak-anak dari keluarga miskin, anak-anak yang tinggal didaerah terpencil, anak-anak yang tinggal di daerah perbatasan dengan Negara lain, anak-anak yang berasal dari suku-suku terasing, anak-anak yang tinggal di daerah konflik, anak-anak yang tinggal di daerah bencana, anak jalanan dan anak yang bekerja, anak yang mempunyai kebutuhan khusus dan lain-lain. Mereka semua adalah anak-anak yang bagaimanapun kondisi latar belakang sosial, budaya, dan ekonomi termarginalkan adalah sumber daya – sumber daya yang memiliki nilai potensial yang tinggi dalam mengembangkan bangsa dan negara ke arah kemajuan.

Pemihakan pemerintah terhadap mereka dilakukan dengan menghilangkan hambatan biaya (cost barrier) bagi orang tua peserta didik dalam rangka meningkatkan jumlah peserta didik SD dan SMP, sehingga Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dapat diselesaikan. Hambatan tersebut menurut Bambang Sudibyo (2006: 87) yaitu: ”biaya operasional satuan pendidikan, biaya pribadi, dan biaya investasi”. Dengan semakin kecilnya hambatan biaya, diharapkan seluruh anak usia sekolah 7 tahun sampai 15 tahun dapat mengikuti pendidikan paling tidak sampai dengan pendidikan dasar sembilan tahun.

Pemerintah telah menghilangkan hambatan biaya dalam rangka meningkatkan jumlah peserta didik SD dan SMP, namun demikian pelayanan pendidikan melalui keberadaan sekolah inklusif merupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan yang relatif lebih murah. Tidak saja bagi pemerintah, juga bagi orang tua peserta didik. Sehingga tidak ada istilah bagi orang tua yang memiliki anak usia sekolah SD dan SMP yang tidak memperoleh pendidikan, sebab tidak saja hambatan biaya yang ditanggulangi pemerintah, tetapi peserta didik dapat bersekolah di sekolah yang terdekat dengan lokasi tempat tinggalnya.

Pendidikan memberikan manfaat teradap individu dan masyarakat berupa nilai intrinsik dan ekstrinsik, moneter dan non-moneter. Manfaat non-moneter dapat berupa konsumsi dan investasi. Elchanan Cohn (1979: 27) menyebutkan nilai intrinsik dari pendidikan adalah moral, agama, dan juga material. Sedangkan nilai ekstrinsik adalah nilai-nilai ekonomis baik untuk individu ataupun masyarakat. Menurut Schultz yang dikutip Elchanan Cohn (1979: 168) nilai-nilai ekstrinsik dapat dikategorikan sebagai konsumtif dan investasi. Aspek konsumtif berhubungan dengan kesenangan, kegembiraan, dan manfaat-manfaat yang diterima oleh siswa, keluarganya, dan masyarakat keseluruhan. Misalnya, kegiatan-kegiatan seperti musik, olah raga, seni dan kerajinan bisa membantu kesenangan siswa di sekolah. Keluarga merasa diringankan tugasnya ketika anak-anak berada di sekolah, manfaat yang besarpun dirasakan oleh guru dan orang lain (Wisbrod, 1962, 116-118). Masyarakat juga memperoleh manfaat konsumtif dengan berkurangnya tingkat kejahatan.

Lebih lanjut Elchanan Cohn (1979) juga mengakui, bahwa pendidikan merupakan fakor yang dominan dalam menentukan keberhasilan seseorang pada bidang ekonomi dan sosial. Pendidikan juga dapat meningkatkan prestise sosial seseorang dalam masyarakat. Pendidikan bukan saja bermanfaat bagi individu tetapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Manfaat lain dari pendidikan terhadap individu adalah dapat meningkatkan produktivitas kerja dan sumber pendapatannya. Produktivitas individu yang tinggi secara kuantitas dan kualitas akan dapat memproduksi barang dan jasa dengan sangat efisien dalam penggunaan sumber daya yang langka tetapi memuaskan. Meningkatnya pendapatan dan tersedianya barang dan jasa dengan harga yang terjangkau akan memacu pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran masyarakat.

Dengan demikian pemberian kesempatan pendidikan melalui sekolah inklusif bagi peserta didik yang sering termarginalkan karena kondisi latar belakanya, merupakan suatu investasi bangsa dalam memacu pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Sekolah inklusif yang relatif lebih murah akan menghasilkan output pendidikan yang berkualitas dengan keahlian yang sesuai kemampuan dan kebutuhan peserta didik. Sebagaimana diungkapkan Elchanan Cohn (1979), bahwa outcome pendidikan dapat berbentuk:

1. Kemampuan dasar, yaitu keberhasilan siswa dalam mencapai kemampuan membaca, memulis, dan berhitung.

2. Kemampuan kejuruan, yang dapat digunakan untuk bekal hidup di masyarakat (life skiil).

3. Kreativitas, merupakan ukuran untuk menilai keberhasilan sekolah dengan bertambahnya kreativitas anak (manfaat investasi).

4. Sikap, sebagai salah satu fungsi sekolah adalah pembentukan sikap yang baik. Sikap ini meliputi untuk sendiri, teman, keluarga, komunitas tertentu, masyarakat sekolah, dan dunia dimana anak hidup.

5. Output lain, seperti pengurangan angka drop-out SMP.

Output pendidikan yang berkualitas dengan keahlian yang sesuai kemampuan dan kebutuhan peserta didik merupakan modal dasar pembangunan bangsa Indonesia, dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sebagaimana diketahui, bahwa pertumbuhan ekonomi bagi negara berkembang melalui investasi pendidikan masih relatif rendah. Namun demikian, bukan berarti pertumbuhan ekonomi di negara Indonesia tidak mengalami peningkatan seiring dengan tingginya tingkat pendidikan masyarakat. Walaupun hal tersebut masih jauh dibandingkan pertumbuhan ekonomi negara maju. Sebagaimana diungkapkan oleh Elchanan Cohn (1979) bahwa, ”… pengeluaran untuk pendidikan dihitung ke dalam pengeluaran konsumsi (bukan tabungan). Karena investasi modal fisik dianggap sebagai tabungan, tambahan pendidikan dapat membuat kontribusi bersih bagi pertumbuhan bila IRR pendidikan lebih rendah dari pada modal material lainnya”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: