KERJASAMA GURU dan ORANGTUA DALAM LAYANAN BKPBI ANAK TUNARUNGU

3 Agustus, 2008

Komunikasi yang baik dalam pendidikan anak berkebutuhan khusus, sangat diperlukan. Hal ini berlaku untuk semua jenis kelainan. Komunikasi memang memegang peranan penting dalam diri individu khususnya dan dalam hidup manusia pada umumnya. Dimana sejumlah kebutuhan hanya dapat disampaikan lewat komunikasi. Demikian halnya dengan anak berkebutuhan khusus dengan segala kekurangan dan hambatannya. Untuk memenuhi kebutuhan komunikasi, guru berupaya agar kemampuan berkomunikasi dapat berkembang secara optimal.

Salah satu anak berkebutuhan khusus yang mengalami hambatan komunikasi adalah anak tunarungu. Anak tunarungu dengan keterbatasan pendengaran, sebagai akibat dari hilangannya pendengaran mengalami hambat perkembangan kemampuan dalam berkomunikasi secara lisan, sehingga menghambat pula pada proses kegiatan belajar yang merupakan bagian terpenting dalam pendidikan. Untuk itu, diperlukan peningkatan kualitas berkomunikasi. Salah satu upaya dalam meningkatkan kualitas berkomunikasi melalui optimalisasi sisa pendengaran, baik menggunakan alat bantu mendengar (ABM) atau tanpa alat bantu mendengar. Untuk memenuhi hal tersebut, seorang guru dituntut untuk dapat mencari alternatif pemecahan dan upaya-upaya dalam mengoptimalkan sisa pendengaran anak tunarungu.

Salah satu usaha untuk mengoptimalkan sisa pendengaran anak tunarungu dilakukan guru dalam bentuk program khusus Bina Komunikasi Persepsi Bunyi dan Irama atau lebih dikenal dengan singkatan BKPBI. Program BKPBI yang dilakukan sekolah merupakan kegiatan berkelanjutan, dengan cara melatih anak mulai dari tahap yang paling awal, yaitu latihan mendeteksi bunyi untuk mengetahui ada tidak adanya bunyi; dilanjutkan dengan latihan mendeskriminasikon bunyi agar anak mampu membeda-bedakan sifat-sifat bunyi; selanjutnya latihan mengidentifikasi bunyi agar anak mengenal bunyi dari berbagai sumber bunyi; dan pada tahap akhir adalah latihan memahami bunyi agar mampu menanggapi apabila terdengar bunyi. Moores (2001:27) mengemukakan bahwa, “dalam memberikan pelajaran kepada anak tunarungu harus ada keseimbangan antara bidang-bidang khusus dengan bidang akademik, berapa banyak bidang-bidang khusus seperti latihan berbicara dan pendengaran yang dialokasikan dibandingkan dengan bidang akademik, karena keduanya harus diberikan secara seimbang.”

Struktur kurikulum SDLB tunarungu mencantumkan muatan bidang akademik lebih banyak dibandingkan dengan bidang khusus. Beban jam pelajaran per-minggu untuk kelas dasar adalah, 30 jam per-minggu, dari waktu tersebut alokasi bidang khusus Bahasa Indanesia hanya lima jam ditambah program khusus BKPBI dua jam, sisanya 23 jam adalah bidang akademik. Atas dasar inilah maka sangat diperlukan kerjasama antara guru dan orangtua. Hal ini dimaksudkan agar ada keseimbangan antara bidang khusus dan bidang akademik. Melalui kegiatan belajar di rumah dengan bimbingan orang tua, anak tunarungu diharapkan mampu berkomunikasi dengan teman­-temannya, orangtua, guru dan masyarakat sekitarnya.

Komunikasi di dalam situasi kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga, dapat menumbuh kembangkan berbagai kemampuan bagi anak tak terkecuali bagi anak gangguan pendengaran. Orangtua berperan penting dalam mengisi dan membina anak melalui pendidikan yang bernilai positif. Orang tualah yang dijadikan pemimpin di suatu keluarga, di mana kedua orangtua berperan aktif dalam pendidikan anaknya tidak terkecuali mendidik anak yang mengalami gangguan.

Orangtua memegang peranan penting dalam kehidupan seorang anak. Ia berfungsi sebagai pendidikan di lingkungan keluarga. Orang tua wajib memberikan perhatian dan bimbingan sesuai dengan perkembangan anaknya. Orangtua harus memiliki kemampuan dalam pengetahuan dan berbagai keterampilan, memilih jiwa besar atau optimis dalam meningkatkan berbagai potensi anaknya dengan optimal. Ia juga harus memperdulikan karekteristik dan kebutuhan utama anaknya terutama dalam kegiatan belajar yang dilakukan di rumah. Hal ini sangat dipahami, mengingat waktu 24 jam hanya ± enam jam anak berada di sekolah. Artinya sekitar 25% anak belajar di sekolah, sedangkan sisanya 18 jam atau 75% anak berada di lingkungan keluarga. Keadaan ini memotivasi guru untuk lebih optimal bekerjasama dengan orangtua dalam kegiatan belajar anak tunarungu, agar tumbuh keserasian antara pendidikan yang dilaksanakan di sekolah dan di rumah. Dengan demikian posisi keluarga sangat strategik peranannya dalam mengembangkan kemampuan berkomunikasi anak tunarungu.

Ruang lingkup BKPBI yang dilaksanakan guru di sekolah meliputi (Depdiknas, 2007: 2-3):

1. Sasaran. BKPBI diberikan untuk siswa tunarungu mulai dari TKLB, SDLB, sampai dengan SMPLB. BKPBI juga diberikan kepada siswa yang masuk sekolah setelah berusia lebih dari 6 tahun (terlambat masuk sekolah). Siswa yang tergolong tunarungu; baik ringan, sedang maupun berat hingga total serta siswa yang memakai ABM dan tidak memakai ABM semua harus memperoleh program khusus BKPBI dengan benar.

2. Program. Cakupan materi BKPBI secara ringkas disusun secara berjenjang mulai dari penghayatan bunyi dan sifatnya paling primitif sampai dengan bunyi sebagai lambang yang paling tinggi nilainya yaitu: (a) Taraf penghayatan bunyi primitif atau taraf penghayatan bunyi-bunyi latar belakang. Bunyi primitif atau bunyi latar belakang (Elly Sri Melinda, 2008: 2) meliputi: Bunyi alam, yaitu gemercik air, gemuruh angin, tiupan angin, pepohonan, banjir, kilat, dan lain-lain; Suara binatang, yaitu suara anjing, suara kucing, suara ayam, suara bebek, dan lain-lain; Suara manusia yaitu, suara mama, papa, adik, dan lain-lain; Suara yang dibuat manusia, yaitu bunyi toktok baso, kleneng es, bunyi dari organ artikulasi, dan lain-lain. (b) Taraf penghayatan bunyi sebagai isyarat atau tanda, termasuk bunyi-bunyi alat musik. Jenis dan macam alat musik yang dapat digunakan (Elly Sri Melinda, 2008: 5) adalah: Alat musik pukul, yaitu gamelan, gendang, drum; Alat musik petik, yaitu gitar, dawai, dan lain-lain; Alat musik tiup, yaitu suling, terompet, dan lain-lain; Alat musik gesek, yoitu biola, dan lain-lain; Alat musik elektronik, yaitu organ, gitar elektrik; Alat musik daerah, yaitu gamelan jawa, gamelan sunda, gamelan bali, kulintang, angklung, seruling, kecapi dan lain-lain; Alat musik barat, yaitu piano, biota, organ, melodi, dan lain-lain. (c) Taraf penghayatan bunyi yang tertinggi, yaitu penghayatan bunyi bahasa atau percakapan yang terjadi saat ada interaksi antar manusia. Bunyi-bunyi bahasa yang didengar siswa secara spontan melalui percakapan antar manusia, misalnya percakapan dalam ekspresi marah, sedih, gembira, juga bentuk percakapan antar manusia yang, menunjukkan kalimat berita, kalimat tanya, atau kalimat perintah.

3. Tahapan-tahapan dalam pembelajaran/pembinaan program khusus BKPBI yang dilaksanakan sekolah meliputi: (a) Tahapan deteksi bunyi, yaitu kemampuan siswa dalam menyadari ada dan tidak adanya bunyi, dengan menggunakan atau tanpa menggunakan alat bantu dengar. (b) Tahap diskriminasi bunyi, yaitu kemampuan siswa dalam membedakan berbagai macam sifat bunyi, menghitung bunyi, mencari arah bunyi, membedakan sumber bunyi, membedakan birama/membedakan irama musik baik memakai ABM (Alat Bantu Mendengar) atau tanpa ABM. (c) Tahap identifikasi bunyi, yaitu kemampuan siswa dalam mengenal ciri-ciri berbagai macam sumber bunyi dan berbagai sifat bunyi dengan menggunakan ABM. (d) Tahap komprehensi, yaitu kemampuan anak dalam memahami makna berbagai macam bunyi terutama bunyi bahasa.

4. Metode dan Pendekatan. Pelaksanaan BKPBI tidak boleh terlepas dari pengajaran bahasa, maka latihan BKPBI musik selalu diakhiri dengan latihan BKPBI bahasa. Oleh karena itu pemilihan metode sebaiknya dikaitkan dengan metode yang dipergunakan dalam pengajaran bahasa. Metode yang dianjurkan dalam pelaksanaan BKPBI terutama percakapan, ditunjang berbagai metode yang relevan, yaitu metode permainan, demostrasi imitasi, pemberian tugas, dan metode observasi dengan cara mengamati respon anak terhadap rangsangan bunyi. Adapun pendekatan metodenya antara lain: (a) Pendekatan multisensoris (visual, auditoria, taktil/pengalaman kontak) sedikit demi sedikit menuju pendekatan unisensoris atau eka-indra artinya hanya menggunakan indra pendengaran saja. (b) Pendekatan klasikal maupun individual. (c) Pendekatan BKPBI aktif, maksudnya siswa secara aktif menciptakan bunyi dan direspon sendiri, dan pendekatan pasif maksudnya siswa menyimak bunyi yang diproduksi oleh orang lain dan kemudian meresponnya. (d) Pendekatan formal artinya: direncanakan/diprogramkan. (e) Pendekatan tak formal artinya: tidak direncanakan jika terjadi bunyi secara tiba-tiba.

5. Latihan Indera Pendengaran. Latihan indera pendengaran dimaksudkan untuk melatih kepekaan anak tunarungu terhadap respon bunyi yang didengarnya, sehingga sisa pendengaran anak tunarungu dapat optimal digunakan. Bentuk latihan indera pendengaran yang dapat diterapkan pada anak tunarungu di sekolah adalah: (a) Latihan auditory attention. (b) Latihan auditory localitation. (c) Latihan auditory discrimination. (d) Latihan auditory spatial relationship. (e) Latihan auditory examination. (f) Latihan auditory memory. (g) Latihan auditory integration. (h) Latihan auditory closure. (i) Latihan auditory tracking. (j) Latihan auditory convergensi. (k) Latihan auditory signal permanent/constant. (1) Latihan auditory figure dan backround.

Pelaksanaan layanan BKPBI di sekolah, sangat diutamakan terlaksana dalam bentuk latihan-latihan untuk memanfaatkan sisa pendengaran anak tunarungu. Melalui latihan tersebut anak akan terlatih untuk memahami bunyi-bunyian.

Kerjasama antara guru dan orang tua dalam pelaksanaan latihan/binaan BKPBI harus terjalin dengan baik. Dalam kesempatan tertentu guru BKPBI dapat memberikan informasi, petunjuk yang berkaitan dengan teknik latihan BKPBI. Pengajaran klasikal dapat diberikan guru dalam bentuk latihan praktis untuk mengoptimalisasikan sisa pendengaran. Latihan atau binaan program khusus BKPBI di sekolah dilaksanakan oleh guru, sedangkan latihan dan binaan di rumah dilaksanakan oleh orangtua. Kerjasama antara guru dan orangtua dalam meningkatkan kemampuan peserta didik sangat penting, artinya harus disadari bahwa anak tunarungu memerlukan bantuan baik di sekolah maupun di rumah agar, kemampuan komunikasi anak meningkat dibandingkan sebelumnya.

Kontribusi orangtua dalam pendidikan anak tunarungu untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi (Permanarian dan Hernawati, 2004: 31) meliputi: 1. Didiklah anak tunarungu seperti mendidik anak-anak yang mendengar; 2. Libatkan anak tunarungu dalam kegiatan keluarga; 3. Jangan memanjakan anak tunarungu secara berlebihan; 4. Berilah kesempatan bermain seluas mungkin pada anak tunarungu; 5. Anak tunarungu harus diberi contoh perilaku yang baik; 6. Sediakan waktu khusus untuk bersama-sama dengan anak tunarungu; 7. Berikanlah kewajiban yang sama pada anak tunarungu dalam melaksanakan tugas­-tugas kerumahtanggaan; 8. Pupuklah rasa cinta akan keindahan alam sekitar; dan 9. Gunakan setiap kesempatan untuk merangsang perkembangan bahasa dan bicara anak tunarungu.

Sedangkan bentuk kerjasama yang dapat dilakukan guru dan orangtua (Santosa, 2000: 17) dalam melatih anak tunarungu adalah:

1. Guru secara aktif memberikan/menyampaikan informasi kepada setiap orangtua tentang pentingnya peningkatan kemampuan komunikasi pada anak tunarungu.

2. Orangtua secara aktif merespon program layanan yang berupa penyuluhan tentang pentingnya peningkatan kemampuan komunikasi untuk anak tunarungu yang disampaikan oleh guru, bisa jadi ini dikarenakan program sekolah yang jelas dan kesinambungan yang didukung dengan adanya kemauan dan kemampuan guru dan orangtua yang sama-sama memandang pentingnya kerjasama tersebut dilakukan.

3. Adanya suatu layanan konsultasi bagi orangtua yang saling berhubungan, untuk membicarakan perkembangan kemampuan komunikasi anak tunarungu.

4. Guru dan orangtua saling mengunjungi dalam upaya menyamakan persepsi dan melihat dari dekat aktivitas anak dalam berkomunikasi menggunakan bicara di sekolah dan di rumah.

5. Guru dan orangtua bersama-sama membuat program peningkatan kemampuan komunikasi anak tunarungu.

6. Komunikasi guru dan orangtua harus sering dilakukan, secara terbuka dan lancar.

7. Guru dan orangtua perlu memecahkan kesulitan yang dihadapi anak tunarungu dalam meningkatkan kemampuan komunikasi.

8. Guru dan orangtua melakukan penilaian atas kemampuan anak tunarungu dalam berkomunikasi.

Sebelum dilakukan kerjasama diperlukan kesamaan pandangan, sikap, dan perlakuan antara guru di sekolah dan orangtua di rumah, untuk itu diperlukan pengetahuan dan keterampilan tentang hal tersebut. Untuk mencapai ke arah tersebut, guru memiliki kewajiban untuk memberikan informasi kepada orangtua tentang kemampuan anak dan pendidikannya. dengan demikian sebuah pola hubungan yang harmonis antar orangtua dan sekolah harus diciptakan dan dibina.

Berikut ini adalah jalan untuk menciptakan harmonisasi dalam interaksi orang tua dan guru (Agus Sensus, 2007) yaitu:

1. Upayakan selalu kontak dengan orangtua dalam nuansa yang positif. Cobalah hindari jargon atau istilah yang rumit dalam bidang pendidikan yang orangtua tidak mengerti.

2. Berdayakan buku komunikasi, gunakan buku itu untuk menceritakan apa yang siswa pelajari, pemberitahuan mengenai PR, memberikan pujian serta pemberitahuan lain mengenai anak didik kita.

3. Adakan pertemuan dengan orang tua seluruhnya saat tahun ajaran baru dimulai, kenalkan diri dan biarkan orangtua menyampaikan kekhawatiran serta harapan mereka terhadap kita sebagai guru, kaitannya dengan proses pendidikan putra­putrinya.

4. Cobalah untuk selalu mengerti kesibukan orangtua anak didik kita.

5. Ajak orangtua untuk menjadi relawan di kelas kita, menjadi bintang tamu saat pembelajaran mengenai topik atau yang lainnya.

6. Jadikan orang tua juga sebagai sumber belajar.

7. Adakan pelatihan mengenai pendidikan anak. Hal ini penting agar ada kesinambungan antara polo asuh di rumah dan di sekolah.

8. Adakan workshop mengenai peningkatan kemampuan bidang khusus anak didik. Judulnya misalnya; “Bagaimana mengajarkan BKPBI untuk anak tunarungu.”

9. Jadikan situasi pengambilan rapor anak didik sebagai jalan untuk merayakan keberhasilan dan pencapaian siswa.

Penyusunan latihan/binaan dalam mengoptimalkan berkomunikasi anak tunarungu dapat dilakukan di sekolah. Dalam penyusunan latihan/binaan tersebut harus berpegang pada kebutuhan dan karakteristik anak setiap anak. Untuk memperoleh gambaran atau sejumlah informasi yang utuh tentang karakteristik dan kemampuan berkomunikasi dari setiap anak, perlu adanya asesmen. Dengan demikian pengembangan dan pelaksanaan kerjasama guru dan orangtua dalam mengoptimalkan kemampuan berkomunikasi anak tunarungu dapat dilaksanakan dengan sistematis, yang tahapannya meliputi: pembentukan komitmen guru dan orangtua, pembuatan program latihan/binaan, pelaksanaan program, dan evaluasi. Pembentukan komitmen antara guru dan orangtua diperlukan agar terdapat kesamaan pandangan, perlakuan, dan kebulatan tekad mengenai sikap untuk tercapainya kerjasama guru dan orangtua dalam meningkatkon kemampuan berkomunikasi anak tunarungu.

SUMBER BACAAN:

Agus, S. (2007). Berkomunikasi dengan Orang Tua. [Online]. Tersedia: http://gurukreatif.wordpress.com/2007/12/06/berkomunikasi-dengan-orang-tua. [20 Desember 2007].

Bunawan, L. dan Cecilia Susila Yuwati. (2000). Penguasaan Bahasa Anak Tunarungu. Jakarta: Yayasan Santi Rama.

Direktur Pembinaan Sekolah Luar Biasa. (2007). Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Program Khusus Bina Persepsi Bunyi dan Irama SDLB dan 5MPLB Tunarungu. Jakarta: Direktorat Pembinaan 5LB Dirjen Manajemen Dikdasmen Depdiknas.

Melinda, E. (2008). “Pelatihan Program Khusus BPBI: Ruang Lingkup Materi Bina Persepsi Bunyi dan Irama”. Makalah pada Diklat Pelatihan Guru BPBI BPG, Bandung.

Moores, Danald F. (2001). Educating The Deaf Psychology, Principles, and Pretties, First Edition. New York: Houghton Mifflin Company.

Nugroho, B. (2002). Diktat Pelatihan Pemanfoatan Peralatan Audiometri, Bina Wicara, Bina Persepsi Bunyi dan Irama: Dasar-loser Bina Persepsi Bunyi dan Irama. Jakarta: Yayasan Pangudi Luhur.

Sadja’ah, E. (2003). Bina Bicara Persepsi Bunyi dan Irama Bandung: San Grafika.

Sadja’ah, E. (2003). Pendidikan Bahasa Raqi Anak Gangguan Pendengaran Dalam Keluarga. Bandung: San Grafika.

Somad, P dan Tati Hernawati. (1996). Ortopedagogik Anak Tunarungu. Jakarta: Direktorat Pendidikan Tinggi Depdikbud.

Sunaryo dan Sunardi. (2006). Intervensi Dini Anak Serkebutuhan Khusus Jakarta; Direktorat Pendidikan Tinggi Depdikbud.


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (Format RPP)

31 Juli, 2008

Tidak terlalu sulit menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) untuk anak tunagrahita dengan model tematik. Asal tiap guru mau belajar mencoba. Pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan program pembelajaran yang telah sebelumnya pernah disusun guru (Satpel). Berikut ini adalah format yang dibutuhkan dalam menyusun RPP, yaitu:

1. Tahap Persiapan, meliputi:

a. Pemetaan standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator ke dalam tema, dengan format:

MATRIKS KONSISTENSI KOMPETENSI DASAR, MATERI PEMBELAJARAN, dan INDIKATOR

Nama Sekolah : SLB Negeri

K e l a s : 1

Jenjang : SDLB – C

Jenis kelainan : Tunagrahita

Tahun Pelajaran : 200 / 200

Kompetensi Dasar

Materi Pembelajaran

Indikator

T e m a

Diri Sendiri

Keluarga

Lingkungan

Tempat Umum

Pengalaman

Kegemaran

Hburan

Budi Pekerti

Kesehatan

K 3

Pendidikan

Makanan

Pekerjaan

Peristiwa

Pariwisata

Komunikasi

Pertanian

Pemerintahan

Komunikasi

Transportasi

Tumbuhan

Binatang

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 18 20 21 22

b. Mengembangkan dan menentukan jaring-jaring pemetaan sesuai standar kompetensi, kompetensi dasar yang telah dipetakan.

c. Menyusun silabus sesuai langkah a dan b dengan format:

S I L A B U S

a. Satuan Pendidikan : SDLB – C

b. Kelas/Smtr : 1/I

c. T e m a : Keluarga

Mata Pelajaran

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

Kegiatan Pembelajaran

Indikator

Penilaian

Alokasi Waktu

Alat/Bahan

2. Tahap Penyusunan RPP

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

T e m a : Keluarga

Kelas/Semester : 1/I

Pertemuan ke- : 2 (4 x pertemuan)

Alokasi waktu : 4 x 30 menit

Standar Kompetensi :

Kompetensi Dasar :

Indikator :

I. Tujuan Pembelajaran

A. Siswa dapat …

B. Siswa dapat …

II. Materi Ajar

III. Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran yang digunakan adalah metode …

IV. Langkah-langkah Pembelajaran

A. Kegiatan Awal ( 4 x 5 menit)

1. Mengkondisikan siswa agar siap belajar dengan mengatur posisi tempat duduk yaitu melingkar dan bagi siswa yang bermasalah duduk dekat guru.

2. Berdoa dengan dipimpin oleh salah satu siswa.

3. Absensi dengan menyebutkan nama siswa dan siswa mereaksi dengan menjawab atau angkat jari.

4. Menyanyikan lagu yang sesuai materi ajar.

B. Kegiatan Inti ( 4 x 18 menit)

1. Mendemostrasikan …

2. Guru menunjukkan gambar …

3. Guru dan siswa melakukan simulasi kegiatan seperti pada gambar …

4. Siswa melakukan kegiatan dengan bimbingan guru, kemudian siswa melakukan sendiri.

5. Guru mengadakan Tanya jawab …

6. Siswa mereaksi dengan menunjuk …

C. Kegiatan Akhir ( 4 x 7 menit)

1. Menanyakan kegiatan tentang …

2. Menyarankan agar …

V. Alat/Bahan/Sumber Belajar

Alat dan bahan pembelajaran adalah photo, gambar, alat …

VI. Penilaian

A. Bentuk tes: Tes perbuatan dan tes lisan.

B. Soal

1. Siapakah … ?

2. ……………. ?

3. ……………. ?

4. ……………. ?

5. ……………. ?

C. Kriteria penilaian kinerja

Skor 3 jika siswa mampu melakukan sendiri dengan baik.

Skor 2 jika siswa mampu melakukan dengan sedikit bantuan.

Skor 1 jika siswa mampu melakukan dengan banyak bantuan.

Skor 0 jika siswa tidak mampu melakukan kegiatan atau pasif.

D. Format penilaian

No.

Aspek yang dinilai

Skor Maksimum

Skor Perolehan

3

2

1

0

1.

3

2.

3

Skor maksimum dan skor perolehan:

6

E. Nilai akhir

Diperoleh dengan membagi skor perolehan dengan skor maksimum dikalikan 10.

3. Tahap Penilaian

Guru harus membuat standar penilaian tiap indikator berdasarkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor, dengan format:

PENILAIAN

a. Satuan Pendidikan : SDLB – C

b. Kelas/Smtr : 1/I

c. T e m a : Keluarga

Kompetensi Dasar

Indikator

Penilaian

Kognitif

Afektif

Psikomotor


ALAT ADAPTIF KOMPUTER

9 Mei, 2008

Pendidikan luar biasa pada hakekatnya adalah pembelajaran yang dirancang untuk siswa yang memiliki kebutuhan pendidikan khusus (Taylor dan Sternberg, 1986 dalam Sunanto dan Suherman, 2007: 47). Dengan diberikan pelayanan pendidikan atau pengajaran optimal yang khusus diharapkan potensi mereka dapat berkembang secara optimal. Pendidikan luar biasa, dalam praktek pengajarannya selalu mempertimbangkan empat komponen utama, yaitu: (1) lingkungan fisik (physical environment); (2) prosedur pengajaran (teaching procedures); (3) materi/isi pelajaran (teaching content/materials); dan (4) penggunaan alat-alat adaptif (use of adaptive equipment).

Berkenaan dengan penggunaan alat-alat adaptif, ini menjadi menarik sebab fenomena yang muncul adalah banyaknya pilihan yang mungkin digunakan guru dalam pembelajaran. Hal ini sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta terjadinya perubahan paradigma dalam pendidikan. Namun disisi lain tersedianya pilihan tersebut menuntut kompetensi dalam memilih alat yang agar penggunaannya betul-betul membantu keberhasilan pembelajaran itu sendiri. Komputer merupakan salah satu alat dan sumber belajar yang saat ini mulai digunakan guru dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran di kelas. Namun belum membudaya, karena banyaknya keterbatasan guru dalam mengoperasikan komputer.

Permasalahannya bagaimanakah penggunaan alat adaptif komputer dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran anak tunagrahita ringan ?

ALAT ADAPTIF KOMPUTER

Komputer pada saat ini, bukan lagi hal yang mahal dalam pendidikan. Sekolah Luar Biasa di Jawa Barat sudah mulai menganggarkan komputer sebagai salah satu perangkat yang harus dimiliki sekolah. Namun penggunaannya masih terbatas pada kegiatan ketata-usahaan. Dalam kegiatan pembelajaran, hanya sebagian kecil guru yang mampu mengoperasikannya.

Perangkat komputer mempunyai beberapa bagian. Ada tiga bagian, yaitu sistem unit, monitor, keyboard dan mouse. Setiap bagian mempunyai fungsi yang berbeda. Sistem unit disebut juga CPU yang memiliki fungsi mirip dengan otak manusia. CPU juga berfungsi sebagai pemroses atau prosesor. Monitor berbentuk seperti televisi. Melalui layar monitor dapat melihat hasil yang dikerjakan komputer. Keyboard seperti mesin tik yang memiliki banyak tombol angka, huruf, dan tombol-tombol khusus. Mouse dihubungkan dengan CPU melalui kabel atau sinar infra merah. Selain itu ada printer yang merupakan alat untuk mencetak hasil operasi Komputer.

PENGGUNAAN ALAT ADAPTIF KOMPUTER DALAM MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN ANAK TUNAGRAHITA RINGAN

Komputer disadari selain merupakan sarana untuk memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar yang kondusif sekaligus sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Karena komputer dapat mendukung kepada pencapaian tujuan belajar yang telah ditetapkan. Dengan menggunakan komputer hasil belajar diyakini akan lebih baik.

Penggunaan komputer dalam pembelajaran dapat digunakan untuk semua mata pelajaran. Terutama pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, Sains, Bahasa Inggris, Seni Lukis, dan lain-lain. Aplikasi dalam berbagai kepentingan pembelajaran anak tunagrahita menjadi sangat menarik. Penggunaan gambar, teknik operasi hitung, cerita yang ditampilkan melalui komputer pada anak tunagrahita dapat membantu memperjelas penyampaian pesan.

Penggunaan komputer sebagai alat adaptif dapat mempertinggi proses belajar mengajar. Manfaat dari penggunaan komputer menurut Sujana (2002: 2) adalah:

1. Pengajaran akan lebih menarik perhatian anak tunagrahita, sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar;

2. Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya, sehingga dapat lebih dipahami oleh anak tunagrahita, dan memungkinkan mereka menguasai tujuan pengajaran lebih baik;

3. Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga anak tunagrahita tidak bosen dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru mengajar untuk setiap jam pelajaran;

4. Anak tunagrahita lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain.

Kedudukan alat adaptif komputer sebagai salah satu upaya mempertinggi proses interaksi guru dan siswa dan interaksi siswa dengan lingkungan belajarnya. Interaksi siswa dan guru ini dapat terlihat dalam bagan 1 di bawah ini.

P B M

Output

Raw Input

Enviromental Input

Instrumental Input

Kompute

Bagan 1 nteraksi Siswa dan Guru Dalam Menggunakan Komputer

Raw input menunjukkan faktor-faktor yang terdapat dalam diri anak tunagrahita. Instrumental input menunjukkan kualifikasi serta kelengkapan sarana yang diperlukan untuk dapat berlangsungnya proses belajar mengajar, perannya sebagai facilitative factors. Salah satu perangkat Instrumental input adalah komputer. Environmental input menunjukkan situasi dan keadaan fisik (sekolah, iklim, budaya, letak sekolah, dan sebagainya) yang mungkin sebagai faktor penunjang atau penghambat. Output merupakan tingkat kualifikasi pencapaian hasil belajar yang diharapkan.

Mengingat penggunaan komputer yang sesuai akan memudahkan dalam penyampaian materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa. Oleh karenanya guru dituntut untuk dapat menggunakan komputer untuk menyampaikan materi, disamping kemampuan guru di dalam memahami karakteristik, potensi, dan kebutuhan siswa.

Sebuah contoh kegiatan dalam pembelajaran menggunakan alat adaptif komputer adalah penerapan pembelajaran matematika pada anak tunagrahita ringan tingkat SMPLB. Dengan tahap-tahap sebagai berikut:

1. Menentukan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dipergunakan (Contoh: bangun datar)

2. Menyusun Silabus dan Rencana Pembelajaran.

3. Melaksanakan proses pembelajaran secara berurutan dari kegiatan awal sampai pada kegiatan inti.

4. Selama melangsungkan kegiatan inti, guru dapat memberikan tugas membuat bangun datar menggunakan komputer.

5. Guru menginformasikan tahapan-tahapan penggunaan komputer dan cara mengoperasikannya dalam membuat bangun datar, cara memberi warna, dan cara mencetak hasil.

6. Program-program yang harus diingat oleh siswa diulang-ulang penggunaannya melalui pengawasan guru.

7. Guru melakukan kegiatan akhir berupa pemberian tugas lisan.

Melalui kegiatan yang riang dan rileks, anak tunagrahita akan lebih mudah menyerap materi pelajaran yang disampaikan guru.

Dunia pendidikan luar biasa seyogyanya memanfaatkan perkembangan teknologi komputer untuk meningkatkan kualitas pembelajaran anak tunagrahita. Pendekatan adaptif pada penggunaan komputer sangat relevan, mengingat pada prinsipnya komputer dihadirkan untuk mempermudah proses belajar. Mengingat penggunaan komputer yang sesuai akan memudahkan dalam penyampaian materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa. Oleh karenanya guru dituntut untuk dapat menggunakan komputer untuk menyampaikan materi, disamping kemampuan guru di dalam memahami karakteristik, potensi, dan kebutuhan siswa. Anak tunagrahita dengan berbagai keterbatasannya mempunyai kemampuan untuk dididik dan dilatih. Termasuk kebiasaan di dalam memanfaatkan teknologi komputer dalam pembelajaran.

Agar penggunaan alat adaptif komputer ini dapat dilaksanakan dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran anak tunagrahita, maka:

1. Perlunya dibangun kerja sama dengan tenaga ahli bidang komputer agar guru dapat terus menimba ilmu.

2. Adanya motivasi dari dalam diri guru untuk memiliki kompetensi bidang teknologi.

3. Membudayakan pembelajaran yang berbasis teknologi, sehingga anak tunagrahita tidak ‘gaptek’ (gagap teknologi).

4. Memanfaatkan teknologi komputer yang ada di SLB sebagai media dan sumber belajar di kelas.

5. Menumbuhkan rasa keingintahuan dan rasa ingin selalu belajar pada diri anak tunagrahita, sehingga mereka mudah menyerap materi pembelajaran.

Sumber Bacaan:

Buono, Agus dkk. (2004). Teknologi Informasi dan Komunikasi Untuk Sekolah Dasar Kelas 1. Jakarta: PT. Widya Utama.

Rusyan, A. Tabrani, dkk. (1994). Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Sujana, Nana dan Ahmad Rivai. (2002). Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Sunanto, Juang dan Yuyus Suherman. (2007). Penggunaan Teknologi Adaptif Untuk Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus Di Sekolah Luar Biasa. Bandung: UPI Jurnal Ilmu Pendidikan Pedagogia Volume 5, Nomor 1, April 2007.

Penulis:

Yuni Kusmayanti (Guru SPLB – C Cipaganti Kota Bandung)

Irine Puspita (guru SLBN Subang)

Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.